Blog Sederhana Ini Dipersembahkan Untuk Kekasih Tercinta, yang Membuat Hidup Semakin Bermakna, dan Membuat Hidup Lebih Hidup, Bebie

Sabtu, 29 Mei 2010

Mejanku Sayang, Mejanku Malang


Mejan-mejan Itu Pernah Berbicara…



by. Ekky Siwabessy/ Photo By Juang Rahmad Manik




Keinginan untuk menyaksikan sendiri mejan yang merupakan lambang kebesaran suku/marga Pakpak ini timbul tatkala dalam rangkaian perjalanan Inside Sumatera di Kabupaten Pakpak Bharat, kami mengetahui bahwa patung bersejarah yang mereka sebut dengan mejan itu semakin lama semakin berkurang. Kini, di delapan kecamatan di Kabupaten Pakpak Bharat, diperkirakan hanya tersisa ratusan saja. Padahal, sebelumnya, mejan terdapat di setiap kampung pada masing-masing keluarga besar marga tertentu.


Untuk memastikan kami berada di tempat yang tepat--setelah sempat tersesat dalam edisi lalu--kru Inside Sumatera akhirnya tiba di salah satu lokasi mejan yang terdapat di Desa Ulu Merah, Kecamatan Sitelu Tali Orang Julu, Pakpak Bharat, kira-kira 45 menit dari Salak, ibukota Kabupaten Pakpak Bharat. Setelah memarkirkan kendaraan di pinggir jalan aspal, kami meniti jembatan bambu kecil di atas parit desa yang tampaknya baru saja dibangun. Selanjutnya kami menelusuri jalanan setapak menanjak menuju ladang kampung.


Di bagian tengah ladang, seorang lelaki tua menyambut kami tergopoh-gopoh. Orang tua itu kemudian kami ketahui bernama Kalfi Berutu. Kepada kami ia menjelaskan, selain berkebun, dia telah ditunjuk klan Berutu dan pemerintah untuk menjaga mejan. Klan Berutu adalah pewaris adat Desa Ulu Merah.



Setelah mengutarakan niat kami, lelaki itu membimbing kami menyusuri jalan setapak di atas areal tanah seluas satu hektar miliknya. Setelah melewati rimbunan pakis setinggi pinggang, kami tiba di sebidang tanah, atau mungkin lebih tepat disebut areal pekuburan di tengah ladang. Di antara kuburan-kuburan itu, terdapat sebidang tanah ukuran berkisar 2 x 2 meter yang dipagari oleh jerjak besi. Sepintas, bidang tanah itu tak berbeda dengan makam-makam lain di situ. Namun jika diperhatikan dengan seksama, orang akan menyadari bahwa sebidang tanah itu bukanlah kuburan.



Di atas tanah dalam pagar itu tergeletak belasan patung batu beraneka bentuk. Ada yang menyerupai manusia sedang menunggang gajah, berbentuk seperti cicak (kelang deleng, dalam bahasa setempat), berbentuk prasasti, dan ada pula batu berbentuk bulat dan berlobang pada bagian tengahnya. Yang terakhir disebut, menurut pak Kalfi, berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu jenazah keluarga atau biasa disebut pertulenan.


“Orang di sini biasa menyebut mejan dengan sebutan lebuh perjaga. Ini adalah mejan tertua di desa ini. Beberapa peneliti yang pernah datang ke sini mengatakan, usia mejan ini berkisar 900 tahun,” ujar pak Kalfi.



Lapisan lumut dan warna permukaan patung-patung yang menghitam itu memperkuat penjelasan Pak Kalfi. Sebagai pendatang, kami juga merasakan panorama purba dan nuansa aroma mistis yang semuanya makin menegaskan usia batuan yang sudah sangat tua.



Sayang sekali, sebagian besar batu-batu ukiran itu sudah tidak utuh lagi. Misalnya, kepala patung manusia yang sedang menunggang gajah telah lenyap entah ke mana. Juga patung ukiran seperti prasasti yang berlobang dan sompal di beberapa bagian. Untuk hal ini, Pak Kalfi lagi-lagi punya penjelasan.



“Dulu saat pemberontakan PRRI Semesta, patung-patung ini ditembaki oleh pemberontak,” kata Pak Kalfi sambil menunjuk jejak vandalisme pada mejan-mejan itu. Entah iseng atau kurang kerjaan, para pemberontak itu telah tega merusak bukti sejarah, meskipun benda itu sama sekali tidak berhubungan dengan sengketa politik yang terjadi saat itu.



Mampu Berbicara


Patung mejan bisa berbentuk macam-macam. Di antara bentuk yang bisa ditemui adalah manusia, manusia menunggang gajah, manusia menunggang kuda, manusia menunggang hewan berkepala singa, angsa dan bentuk lain. Di masa lalu, fungsi mejan dijadikan sebagai benteng pertahanan terhadap musuh yang akan masuk ke suatu daerah atau kampung. Konon pada zaman dahulu, mejan dapat bersuara apabila musuh datang memasuki kampung. Mejan juga bersuara apabila suatu kampung akan mengalami peristiwa tertentu.



Kemampuan mejan berbicara, sesuai kepercayaan tradisional, dapat dilakukan apabila batu-batu ukiran itu terlebih dahulu dilambari dengan mantera-mantera untuk mengisinya dengan roh yang biasa disebut masyarakat Pakpak dengan nangguru (pengian/pengisi batu mejan). Nangguru yang tinggal di batu mejan itu adalah roh nenek moyang yang dipanggil melalui suatu ritual yang dilakukan untuk tujuan itu.



Untuk itu, membuat mejan adalah sebuah pekerjaan besar, dan hanya orang yang sangat kaya dari suatu klan yang bisa melakukannya. Selain membutuhkan dana besar, proses membuat mejan juga membutuhkan waktu yang sangat lama, dan syarat-syarat spritual yang harus dipenuhi.



Menurut Pak Kalfi, untuk pengerjaan satu mejan, dibutuhkan waktu berbulan-bulan. “Misalnya saya ingin membuat patung ayah saya. Saya harus meletakkannya di pinggir jalan dengan pahatan dasar. Lalu penyempurnaannya dilakukan melalui pendapat orang-orang yang mengenal ayah saya yang kebetulan melintas di jalan. Ada yang mungkin mengatakan hidungnya kurang mancung, matanya harus menyimpan amarah, dan sebagainya. Sehingga dari hari demi hari, mejan itu akan mencapai kesempurnaan bentuk sesuai anggapan umum masyarakat terhadap profil ayah saya. Demi kepentingan itu, maka orang yang mengerjakan mejan haruslah orang yang terampil, akomodatif, dan sanggup bekerja di bawah tekanan pendapat yang bermacam-macam,” tuturnya.



Mejan sangat diyakini kemanjurannya oleh suku Pakpak. Kampung yang memiliki mejan dianggap tidak mudah dimasuki musuh. Contohnya seseorang yang akan masuk suatu kampung yang memiliki mejan dan mempunyai maksud yang tidak baik, dapat berkeliling kampung tanpa tahu arah dan tujuannya.



Pencurian


Seiring dengan datangnya agama, fungsi mejan sekarang hanyalah menjadi benda-benda bersejarah yang kehilangan ”kesaktian”. Meskipun tidak fungsional dalam kehidupan masyarakat setempat, tapi justru sekaranglah minat terhadap mejan terasa lebih tinggi. Kalau dulu tak pernah ada kasus kehilangan patung, kini banyak mejan ditemukan tanpa punya kepala, hilang dicuri oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Bagi kalangan tertentu (kalangan mistis), mereka meyakini bagian kepala patung mejan masih dihuni oleh nangguru. Dan perlu ritual untuk memanggil nangguru-nya kembali, yang fungsinya untuk menjaga rumah dan menjaga ladang ataupun fungsi yang lebih besar.



Pada tahun 2005, mejan Solin di Natam Pakpak hampir dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab dari luar daerah Kabupaten Pakpak Bharat. Tapi pada kasus ini mejan dapat diselamatkan, dan pencurinya ditangkap oleh pihak yang berwajib. Kejadian lain adalah pencurian mejan milik klan Manik. Tapi dalam kasus ini, mejan tidak dapat diselamatkan dan kini entah berada di mana. Masih ada kasus-kasus lain yang diduga berkaitan dengan perdagangan gelap barang bersejarah yang bisa jadi sindikatnya terhubung secara internasional.



Mejan yang rata-rata hilang adalah mejan yang masih utuh atau masih ada kepalanya. Sungguh suatu kenyataan yang amat tragis. Saksi-saksi budaya masa lampau yang tak ternilai harganya dan sangat penting artinya bagi keberadaan sebuah suku bangsa, telah dihargai dengan segepok lembaran 100 ribuan rupiah.



Beruntung, mejan klan Berutu masih ada, meskipun dalam keadaan rusak. Pantas saja, orang kampung menatap kami dengan pandangan curiga ketika di sepanjang perjalanan tadi kami menanyakan lokasi batu-batu tua itu. Rupanya mereka khawatir mejan mereka akan dicuri.



Memang, kalau Anda tertarik mencuri mejan itu, caranya gampang sekali. Datanglah pada malam hari, dan ambil sesuka hati karena tidak ada penjaga mejan yang dibiarkan teronggok di ladang-ladang sepi di sejumlah desa atau dusun di Pakpak Bharat.



Pengaruh Hindu



Menurut hasil penelitian para arkeolog yang pernah melakukan riset di daerah Pakpak Bharat, keberadaan mejan tidak terlepas dari pengaruh ajaran Hindu yang juga identik dengan budaya patungnya. Bentuk patung seperti gajah dan angsa adalah hasil kontak mereka dengan para pendatang dari India. Pasalnya, jenis hewan-hewan itu bukanlah endemik Pakpak.



Misalnya, bentuk-bentuk seperti patung angsa yang berfungsi sebagai tutup batu pertulenan (penyimpanan abu jenazah) sebenarnya tidak lain adalah hasil interpretasi Pakpak terhadap ikonografi Hindu yang dikawinkan dengan bentuk mejan yang telah ada sebelumnya, sebagai suatu simbol kendaraan/wahana arwah.



Walaupun daerah Pakpak berada di gugusan Pegunungan Bukit Barisan, namun lembah-lembah beserta aliran sungainya memegang peranan penting bagi terciptanya komunikasi antara daerah pesisir dengan daerah pedalaman. Di samping itu, gugusan pegunungan, lembah-lembah, dan sungai-sungai yang ada juga ikut menciptakan jaringan perdagangan antara daerah pesisir dan pedalaman.


Dunia niaga antara kawasan Singkil dan Barus dengan Pakpak Landen (Tanah Pakpak) banyak ditentukan oleh jalur niaga yang melalui gugusan pegunungan, lembah-lembah, dan sungai-sungai di daerah tersebut.


Di sanalah dulu peradaban berkembang lebih awal ketika wilayah timur masih jadi hutan belantara, atau bahkan Kota Medan belum tiada. Namun sejarah ini sering diabaikan sehingga orang-orang Pakpak, pesisir barat, sering dianggap sebagai kawasan primitif dan ketinggalan. Inilah fakta yang sangat menyedihkan!


Dengan beban pikiran itu, kami beranjak pulang. Entah kenapa, aku merasa bukan hanya tatapan sepasang mata Pak Kalfi Berutu saja yang mengantar langkah kaki kami ke jalan. Ada beberapa pasang mata lain. Mungkinkah patung-patung itu…?


Categories



Widget by Scrapur

4 komentar:

Anonim mengatakan...

njuah-Njuah, Thanks Postingannya

Willy Habib Berutu, S.STP mengatakan...

Njuah-Njuah Boss....

Siswati Solin mengatakan...

Mantap turang. Smoga bisa menambah wawasan bagi semua terlebih bagi warga Pakpak utk lebih mencintai budayanya.

Siswati Solin mengatakan...

Mantap turang. Smoga bisa menambah wawasan bagi semua terlebih bagi warga Pakpak utk lebih mencintai budayanya.

Posting Komentar